Breaking News

KADUNG Borong tapi Belum Mahir Nyetir, Miliader Tuban Kecelakaan Massal, Mobil Baru Kini Penyok

Dealer tempat warga Tuban memborong mobil kini kebanjiran servis lantaran beberapa mobil baru kini penyok akibat kecelakaan.

Kecelakaan sejumlah miliader dadakan di Tuban ini viral di grup Motuba di Facebook, hingga mendapat komentar beragam netizen.

Ternyata para miliader dadakan di Tuban itu, beberapa di antaranya belum bisa menyetir mobil.

Hal itu diakui Ari Soerjono, salah satu manajer diler Toyota di Tuban, Jawa Timur.

Ia mengakui bengkel di dilernya kebanjiran order untuk perbaikan mobil, selain pembelian mobil.

Padahal mobil-mobil itu baru datang dari diler dengan cat yang masih mengkilap, beberapa bahkan pelat nomornya belum turun.

Viral warga desa di Tuban borong mobil, terungkap fakta ini. (TikTok @rizkii.02)
“Karena di sana memang banyak sekali warga yang belum bisa terlalu mahir nyetir.

Sehingga ada beberapa unit yang begitu kita delivery, dalam beberapa hari ada accident (kecelakaan),” kata Ari, dikutip TribunSolo.com dari channel YouTube CNN Indonesia, Jumat (19/2/2021).

Meski demikian, Ari tak mempermasalahkan insiden kecelakaan tersebut, lantaran mobil yang dibeli di diler resmi sudah dicover asuransi.

“Memang kita sudah mempersiapkannya dengan cara melengkapi penjualan kendaraan dengan asuransi.

Sehingga begitu ada warga yang mengalami kecelakaan, kita bisa bantu proses pengerjaan (perbaikannya),” ucap Ari.

Terlepas dari insiden kecelakaan akibat banyak miliader dadakan di Tuban yang belum bisa menyetir, Ari tak menampik diler tempatnya bekerja ikut ketiban berkah.

“Kalau di tempat lain turun, kita tertutupi oleh konsumen pembebasan lahan ini.
Kalau dari target total 480, kita bisa mencapai penjualan 500 unit dalam setahun kemarin,” tambahnya.

Ia lalu menambahkan, Warga Kecamatan Jenu, Tuban, memiliki varian mobil Toyota favoritnya masing-masing.

Dua di antara mobil Toyota yang banyak dicari adalah Toyota Innova Venturer dan Toyota Rush.

Alasannya karena kebanyakan pembeli mobil ini sudah berkeluarga.

“Mayoritas memang di segmen Innova yang paling banyak,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, banyak warga di sejumlah desa di Tuban ‘kaya mendadak’ usai tanah mereka dibeli oleh Pertamina sebagai ganti rugi pembangunan kilang minyak GRR.

Kilang minyak tersebut memiliki luas sekitar 1.050 hektare.

Terdiri dari 821 ha lahan darat yang tersebar di Desa Kaliuntu, Wadung, Sumurgeneng, perhutani dan KLHK serta sisanya reklamasi laut.

Rencananya kilang ini akan beroperasi pada tahun 2024.

Kilang ini merupakan kerja bareng antara PT Pertamina dan Rosneft dari Rusia senilai Rp 225 Triliun.

Tukang Traktor PD Beli Mobil, Padahal Belum Bisa Nyetir

Matrawi (55), salah satu warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, mengaku belum bisa menyetir mobil sebelum membeli dua mobil sekaligus dari hasil menjual tanahnya ke Pertamina.

“Saya beli dulu baru belajar, sekarang sudah bisa sedikit-sedikit.

Belum berani jalan ke kota, di desa dulu,” katanya.

Salah satu warga Tuban yang beli mobil setelah tanahnya dibeli untuk jadi kilang minyak (TribunJatim/M Sudarsono)
Seperti diketahui, Matrawi menerima uang Rp 3 miliar dari penjualan setengah hektare tanah miliknya.

Uang tersebut dia gunakan untuk membeli satu Toyota Rush dan satu mobil pikap.

Hal serupa juga dialami oleh tetangganya, Wantono (40), yang belum mengaku belum tahu apa pun soal menyetir mobil.

Wantono menceritakan, dirinya hanya tahu cara bagaimana mengendarai traktor di sawah.

“Memang sebelum beli mobil ini tidak bisa nyetir, setelah beli saya belajar,” ujar Wantono, saat ditemui di rumahnya, seperti dilansir dari Tribunjatim.com, Kamis (18/2/2021).

Namun, setelah menerima Rp 24 miliar dari penjualan tanahnya seluas 4,2 hektar, Wantono membeli Mitsubishi Expander.

Petani Boyolali Jadi Miliarder Dadakan dari Tol Solo-Jogja : Ogah Borong Mobil Seperti di Tuban

Fenomena ketiban ‘durian runtuh’ karena mendapatkan miliaran rupiah tak hanya terjadi di Tuban, Jawa Timur (Jatim).

Di Kabupaten Boyolali juga ada fenomena serupa, sehingga kini menjadi kaya raya atau kaya mendadak imbas ganti rugi proyek Tol Solo-Jogja.

Satu di antaranya, pasangan warga asal Kecamatan Sawit, Roisa Muhammad (32) dan Anik Dewi (32).

Roisa yang sehari-hari jadi petani itu tak menyangka ketiban durian runtuh proyek Tol Trans Jawa yang menghubungkan kawasan Ngasem melewati Banyudono dan Sawit.

Pasangan muda tersebut menerima ganti untung senilai Rp 10 miliar.

Angka tersebut berdasarkan data yang diterima TribunSolo.com, menjadi kompensasi tertinggi di Kabupaten Boyolali.

Mengingat dari puluhan orang, hanya kisaran mendapatankan ratusan juta hingga paling banter Rp 3,8 miliar saja.

“Alhamdulillah, rezekinya gusti Allah,” ungkapnya saat ditemui TribunSolo.com Jumat (19/2/2021).

Total nilai ganti untung sebesar Rp 10 miliar sendiri, kata Roisa merupakan nilai 4 bidang tanahnya yang terdampak proyel tol dengan luas 9.000 meter persegi.

“Kurang lebihnya kalau dibulatkan segitu,” paparnya.

Meski menerima uang kompensasi yang tak sedikit, namun Roisa mengaku tak ingin berfoya-foya layaknya warga Tuban yang belakangan ini viral.

Apalagi sampai memborong mobil.

Dirinya mengutarakan uang Rp 10 miliar bakal digunakan untuk masa depan kedua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan PAUD.

“Untuk ditabung buat masa depan anak-anak, selain itu untuk beli tanah investasi juga,” paparnya.

“Kita orang desa tidak ingin seperti di Tuban hehe,” ungkapnya.

Roisa sendiri berharap pembangunan Tol Solo – Jogja berjalan lancar dan segera dinikmati oleh warga.

“Semoga jalan tolnya berkah dan saling menguntungkan,” tandasnya.

Puluhan Orang Terima Ganti

Sebelumnya, sebanyak puluhan orang pemilik 85 bidang lahan di Kabupaten Boyolali terima ganti rugi proyek Tol Solo-Jogja Rp 108 miliar lebih.

Ganti rugi agak digelontor oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Staf Pejabat Pembuat Komitmen PPK Satker Pelaksana Jalan Tol Solo-Jogja, Christian Nugroho mengatakan semua bidang tanah yang terdampak yang telah melaksanakan penyerahan uang ganti rugi berada di 3 desa.

“Total 85 tanah yang terdampak terbagi dari Desa Jembungan, Jatirejo, dan Bendosari sudah menerima uang ganti rugi,” kata dia kepada TribunSolo.com, Kamis (18/2/2021)

Christian menerangkan, dari total 85 bidang itu, di Desa Jembungan terdapat 43 bidang dengan total luas 38.889 meter persegi.

Kemudian di Desa Jatirejo ada 40 bidang dengan total luas 50.983 meter persegi dan di Desa Bendosari ada 2 bidang dengan total luas 1.351 meter persegi

“Total luas bidang tersebut sekitar 56.233 meter persegi,” ucap dia.

Kemudian Christian menjelaskan, dari LMAN telah menganggarkan sebesar Rp 108.349.697.578 untuk puluhan orang yang memiliki 85 lahan tersebut.

Dia menyebut, masing-masing terdiri dari Desa Jembungan Rp 53.817.425.929,00, lalu di Desa Jatirejo Rp 53.181.987.705.

Kemudian di Desa Bendosari sekitar Rp 1.350.283.944.

“Dari total 85 bidang, ada sekitar Rp 108 miliar lebih,” tuturnya.

 

 

 

Sumber Artikel :  jumatsabtu . com /archives/15629

About namiradistro

Check Also

Hujan Air Mata, Ibu dan Anak Menangis Ditinggal Mudik dan Tak akan Kembali Lagi

Sebuah video yang memperlihatkan perpisahan antara baby sitter dengan anak yang diasuhnya viral dan membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − twelve =