Kisah Bripka Julianto, Ustadz Yang Sukses Jadi Polisi, Dirikan Pesantren Dan Punya 500 Lebih Santri

Pernikahan hanya bertahan 16 bulan

Perjalan menuju pernikahan yang mulus membuat ia merasa yakin atas pilihannya. Namun ternyata, dugaannya tersebut salah, awal pernikahan semua berubah 180 derajat.

Membangun dan mempertahankan keutuhan rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Tak heran banyak yang menyarankan agar setiap pasangan mengenali lebih dalam sosok yang akan menjadi pendamping hidupnya.

kan Kisah Bripka Julianto, Ustadz Yang Sukses Jadi Polisi, Dirikan Pesantren dan Punya 500 Lebih Santri

BRIPKA Julianto Pane sosok polisi luar biasa. Selain bertugas sebagai abdi negara, pria ini mendirikan Pondok Pesantren Ruhul ‘Azam sekaligus memimpinnya di sela bertugas sebagai personel Polres Gayo Lues, Aceh.

Pesantren Ruhul ‘Azam terletak di Dusun Gunyah, Kampung Bustanul Salam, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.

Bripka Julianto yang biasa disapa Ustadz Pane mendirikan pesantren tersebut secara swadaya pada 2009. Awalnya diperuntukkan sebagai tempat pengajian dan beribadah bagi rekan-rekannya sesama polisi. Mereka mengaji di Ruhul ‘Azam menyesuaikan dengan waktu dinas.

Bagaimana Cara Mengembalikan Penglihatan 100% tanpa Operasi?
Eyelab
“Awalnya bertujuan untuk polisi agar mereka bisa belajar di tempat ini dan menyesuaikan waktu tugas,” kata Julianto Pane dalam sebuah video profilnya yang viral di media sosial seperti dikutip Okezone, Sabtu (8/8/2020).

Belakangan banyak warga sekitar menaruh minat pada pesantren diasuh Julianto Pane. Akhirnya ia pun menerima santri-santri dari warga sekitar. Dari waktu ke waktu, pesantren terus berkembang dan santrinya kini mencapai ratusan, bukan hanya dari Gayo Lues saja, tapi juga luar kabupaten seperti Aceh Tenggara hingga Aceh Timur.

Di lingkungan pesantren kini juga sudah berdiri sekolah dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Pane memadukan pendidikan agama dan umum untuk anak didiknya.

“Saat ini sudah menampung anak-anak murid dari sekolah formal tingkat MI, MTs, dan MA. Ini adalah tujuan untuk membantu masyarakat supaya mereka mendapatkan tempat untuk menuntut ilmu,” ujar Ustadz Pane.

Menurutnya mendirikan pesantren juga bagian dari membantu tugas pokok kepolisian dalam mengatasi kejahatan, kenakalan remaja, serta pemakaian narkoba. Setidaknya ada ratusan santri yang belajar di pesantren Pane terselamatkan dari aksi-aksi tak terpuji itu.

“Kita sudah mengamankan mereka dari kejahatan kekerasan dan penyalahgunaan narkoba. Bahkan kesibukan menggunakan handphone yang kini sulit dikendalikan,” kata Pane.

Meski jadi pemimpin pesantren dengan ratusan santri dan kedudukannya sebagai orang yang dihormati masyarakat selaku pemuka agama, Pane tidak meninggalkan kewajiban dalam dinas.

Kanit Bintikmas Satuan Bimmas Polres Gayo Lues tetap disiplin bertugas. Biasanya, selepas Sholat Subuh, Ustadz Pane mengajar dulu di pesantrennya. Kemudian baru berangkat tugas. Pulang tugas pada sore hari, Pane kembali mengajar lagi.

Pane berharap kelak suatu saat pesantrennya mampu melahirkan generasi-generasi qurani yang tangguh tanpa narkoba, disiplin berbakti pada orang tua dan cinta terhadap negaranya.

“Berharap ketika mereka pulang ke kampung halamannya, mereka memotivasi masyarakat di luar sana dan mempengaruhi hal-hal yang positif di tengah masyarakat,” kata Pane.

Pane sukses berkarir sebagai polisi sekaligus pengasuh pesantren juga tak lepas dari dukungan istrinya, Emi Juwita.

“Saya sangat mendukung usaha suami saya menjadikan anak-anak di gayo menjadi generasi yang Islami, anak-anak penghafal Alquran, alim, dan berakhlak mulia, dengan pesantren yang didirikannya ini,” ujarnyaUang Ataupun Emas, Pria ini Berikan Kucing Untuk Seserahan Calon Istrinya

Perangai seseorang bisa benar-benar berbeda setelah menikah dan hidup bersama. Hal ini sejalan dengan yang dirasakan oleh seorang perempuan yang dibagikan dalam unggahan akun @QueenofBarbar.

Pencerita mengungkapkan bahwa pernikahannya hanya bertahan 16 bulan saja.

Kisah pilu ini dikirimkan oleh seroang perempuan berusia 28 tahun, berinisial A yang saat ini sedang menjalani proses perceraian dengan suaminya N (29).

A sebenarnya sudah mengenal N sejak SMP, namun mereka baru ketemu lagi setelah dewasa dan mulai dekat pada 2018.

Setelah empat bulan merasa cocok tanpa melalui proses pacaran, N melamar A dan akhirnya menikah di pengujung tahun.

Sebulan pertama, mereka hidup bahagia dan harmonis selayaknya pasangan yang baru menikah. Mereka tinggal bersama orang tua N.

Mulanya A merasa kurang nyaman jika harus tinggal bersama mertua, tetapi ia patuh dengan permintaan suami.

Selang dua bulan A mulai melihat sosok N sebagai sosok yang berbeda jauh. N menjadi pemarah dan sangat temperamental. Perkara kecil saja bisa memicu

keributan besar.

Tak hanya suaminya, A juga merasa mertuanya berlaku kasar dengannya. Namun sekasar apapun ucapan suami maupun mertuanya, A tidak pernah membantah dan berusaha tetap patuh.

Konflik puncak terjadi saat A sedang mengandung pada Juni 2019. A berusaha sedikit manja dan meminta perhatian dari N, namun suaminya tak menanggapinya.

Mereka pun sempat berselisih perihal memeriksakan kandungan. A ingin periksa di bidan, sedang N inginnya di puskesmas saja. Penyebabnya adalah biaya periksa ke bidan yang mahal, yakni 300 ribu.

A tahu bahwa N adalah orang yang berkecukupan meski ia tak diperbolehkan ikut campur masalah keuangan. A tidak diberikan kepercayaan dan bahkan A juga pernah diusir ketika N sedang marah yang membabi buta.

Karena merasa tidak mendapatkan hak-hak dari suaminya, A memutuskan untuk menceraikan N. Sampai saat ini N tidak ada itikad baik untuk datang ke rumah orang tua A dan menjemputnya kembali.

Ia berkesimpulan, suaminya itu belum siap secara mental untuk menikah dan ia menyesal tak mengenal lebih jauh sifat asli N sebelum menikah.

Terakhir, A menyampaikan pesan penting untuk para wanita. Dia mewanti-wanti agar menikah jika sudah siap dan jangan terburu-buru hanya karena desakan orang tua.

Ia juga menyarankan agar lebih baik tinggal di rumah kontrakan dan tidak berkumpul bersama orang tua. Dia juga mengingatkan untuk mengenal lebih dalam pasangan serta berani keluar dari hubungan toxic.

 

 

 

 

Sumber  Artikel :beritaindonesia . tday/021/2/isah-bripka-julianto-ustadz-yang.html

 

About namiradistro

Check Also

Dicampakkan Saat Hamil Tua, Perubahan Wanita Cantiq Ini Pasti Buat Mantan Nyesal

“Suamimu pasti menangis melihat dirimu sekarang dan menyesal telah meninggalkan istri dan anak-anaknya,” kata netizen. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 5 =