Poligami Salah Kaprah Berujung Penjara di Riau, Istri Muda Dimanja, Istri Tua 4 Tahun Menderita

Poligami salah kaprah berujung penjara di Riau dialami pria berinisial HE di Kampar, Istri Muda dimanja, Istri Tua 4 tahun menderita.

Pria di Kampar yang mencederai hukum Poligami adalah HE (45) dan kini ia menjadi tersangka penganiayaan yang dilakukannya terhadap Istri Tua nya.

HE ditangkap Polsek Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada Rabu (10/6/2021) di Pekanbaru atas Poligami salah kaprah yang dilakukannya terhadap Istri Tua nya.

Penangkapan tersangka HE dilakukan setelah korban bernama Idariyani (39) yang merupakan istri pertama pelaku, warga Desa Terantang Kecamatan Tambang melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Polsek Tambang.

Korban dianiaya oleh tersangka HE bersama adik iparnya berinisial JO di areal kebun sawit Dusun IV Desa Terantang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar pada Minggu (30/5/2021) lalu.

Korban Idariyani mengaku kekerasan sering diterimanya selama dalam pernikahan yang dijalaninya.

“Dia berubah menjadi pribadi yang kasar semenjak menikah lagi.

Sudah empat tahun lamanya saya dimadu oleh yang bersangkutan,” ungkapnya.

Dirinya mengaku kerap dipukuli dan dianiaya pelaku selama umur pernikahannya itu.

“Saya kerap menerima pukulan dan tendangan dari dirinya yang membuat saya tidak tahan,” ungkapnya.

Idariyani menuturkan dirinya sudah melakukan sidang perceraian pernikahan dengan pelaku.

Namun hingga saat ini pelaku masih mengajukan kasasi putusan perceraian pernikahan mereka.

Dirinya mengaku sebelum gugatan cerai diajukan olehnya, dirinya kerap meminta cerai ke yang bersangkutan namun selalu ditanggapi dengan emosi.

Ida berharap pelaku bisa ditindak atas perbuatan kekerasan yang dilakukan terhadap dirinya.

Kapolsek Tambang, Iptu M Harris Saputra terkait penangkapan tersangka pelaku KDRT membenarkannya.

“Ia kita telah mengamankan pelaku KDRT yang dilaporkan oleh Idariyani,” ungkapnya.

Kapolsek Tambang Iptu M Harris Saputra menjelaskan kejadian penganiayaan ini berawal pada Minggu (30/5) sore,

Saat itu, tersangka HE bersama adiknya JO datang menemui korban Idariyani yang saat itu sedang membawa orang untuk memanen di kebun kelapa sawit miliknya, di Pulau Cantu Dusun IV Desa Terantang Kec. Tambang.

“Tiba-tiba tersangka HE langsung marah-marah dan berkata, ”Kenapa Kau Panen Sawit ini”, lalu HE langsung mencekik leher korban dan menyuruh adiknya JO untuk mengambil Handphone yang sedang dipegang korban.

Selanjutnya JO langsung mengambil Handphone milik korban dan membuangnya ke Sungai Kampar yang tidak jauh dari TKP.

Tidak sampai disitu JO juga mencekik leher korban dengan tangan kanannya sekuat tenaga dan mendorong korban hingga terjatuh ke tanah lalu menduduki tubuh korban.

Dan kembali mencekik leher korban hingga ia susah bernapas.

Korban akhirnya berhasil melarikan diri dengan melompat ke Sungai lalu ditolong warga.

Kemudian korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tambang untuk pengusutannya.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Reskrim Polsek Tambang lakukan penyelidikan atas kejadian tersebut.

Rabu (9/6/2021) sore Tim Reskrim Polsek Tambang mendapat informasi keberadaan tersangka HE dikediamannya Perum Villa Taman Raya Raudha Kelurahan Tabek Gadang Kecamatan Bina Widya Kota Pekanbaru.

Selanjutnya anggota langsung mendatangi lokasi dan berhasil mengamankan tersangka HE, petugas langsung membawanya ke Polsek Tambang untuk dilakukan pemeriksaan terkait perbuatannya melakukan tindak pidana KDRT tersebut.

Hukum, Sejarah dan Cara serta Syarat Poligami dalam Islam

Hukum Poligami dalam Islam bukan tiba-tiba ada, namun ada sebab mengapa hukum itu ada, ada peristiwa yang melatarbelakangi hukum Poligami itu muncul.

Pada zaman jahiliyah, orang Arab melakukan Poligami sampai puluhan istri bahkan hingga seratus istri, tergantung ia kemampuannya.

Kalau ornag kaya, ia bisa melakukan Poligami sesuka hatinya puluhan hingga sampai seratusan istri.

Ketika Islam datang sebagai agama yang menghormati wanita, maka Allah menurunkan hukum Poligami melalui wahyunya yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Orang Arab yang biasa beristri belasan hingga puluhan dan ratusan, kini dikurangi menjadi 4 orang ketika mereka masuk ke dalam agama Islam.

Nah, bagi yang salah faham dengan Poligami dalam Islam harus tahu soal ini, karena gagal faham akan berakibat fatal, maka belajarlah lebih banyak agar tidak salah faham dengan Poligami dalam Islam.

Dalam Islam, Poligami adalah seorang laki-laki menikahi wanita lebih dari satu sekaligus, baik itu dua, tiga atau empat wanita sekaligus.

Bagi para suami yang ingin menikahi dua wanita, tiga wanita atau empat wanita sekaligus, harus mengetahui syarat Poligami dalam ajaran Islam.

Namun, bagi seorang laki-laki yang beragama Islam, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi jika ingin melakukan Poligami atau menikahi wanita lebih dari satu dan maksimal empat wanita sekaligus.

Islam mengajarkan untuk menghormati dan menghargai wanita, sehingga Poligami memiliki syarat-syarat yang ketat agar harga diri wanita tidak tersia-siakan.

Nah, selain pria, wanita atau seorang istri juga wajib tahu tentang syarat-syarat Poligami ini.

Berikut kami rangkum dari berbagai sumber syarat-syarat Poligami dalam Islam :

1. Mampu Berlaku Adil

Seorang pria berPoligami harus mampu bersikap adil di antara para istrinya dalam banyak hal, termasuk nafkah lahir dan batin.

Apabila ia condong kepada salah satu istri saja, maka ini akan menimbulkan kezaliman bagi istri-istri lain.

Aturan ketat Poligami ini ditegaskan Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi yang berbunyi:

“Siapa saja orangnya yang memiliki 2 istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari Kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan bagian pundaknya miring sebelah.”

Dalam hal ini, ada baiknya seorang pria berPoligami mengatur jadwal bermalam untuk istri-istrinya dengan musyawarah terlebih dahulu.

2. Jumlah Istri Dibatasi, Maksimal 4 Orang

Syarat Poligami menurut syariat Islam hanya boleh dilakukan sebanyak 4 istri sekaligus.

“Maka berkawinlah dengan sesiapa yang kamu berkenan dari perempuan-perempuan (lain): dua, tiga atau empat.” (Q.S An-Nisa ayat 3)

Dalam hal ini, Rasulullah telah membatasi praktik Poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam beristeri lebih dari satu wanita.

Batasan menikahi 4 wanita dalam hal berPoligami ini ditegaskan oleh Rasulullah ketika melihat sebagian sahabat telah mengawini 8 sampai 10 wanita sekaligus.

Mereka lalu diminta Rasulullah menceraikan sebagian dan menyisakan empat istri saja.

Itulah yang dilakukan Rasulullah kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits.

“Dari Qais Ibnu Al-Harits ia berkata: Ketika masuk Islam saya memiliki delapan istri, saya menemui Rasulullah dan menceritakan keadaan saya, lalu beliau bersabda: “Pilih empat di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah)

3. Mampu Memberi Nafkah Lahir dan Batin

Setiap pria harus mampu memberi nafkah lahir dan batin bagi para istrinya.

Apabila merasa masih sulit menafkahi satu orang istri, maka orang semacam ini sangat berhak dilarang Poligami.

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33)

Sebab, Rasulullah dahulu berPoligami bukanlah semata untuk kesenangan diri sendiri, melainkan demi membantu wanita-wanita yang tidak memiliki seseorang yang menafkahinya.

4. Niatkan Semata untuk Ibadah kepada Allah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Q.S Al-Munafiqun:9)

Oleh sebab itu, salah satu syarat mutlak Poligami sesuai syariat Islam yaitu memulai menikah dengan niatan beribadah kepada Allah.

Selain sebagai sarana ibadah, menikah dapat menaikkan kedudukan wanita serta mempermudah wanita untuk masuk surga.

5. Dilarang Menikahi Dua Wanita yang Bersaudara

Bagi pria yang berPoligami, hendaklah ia menghindari pernikahan terhadap dua wanita yang memiliki hubungan darah erat (misal, saudara atau bibi).

Hal semacam itu dilarang dalam hukum Poligami Islam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’alaa dalam Surah An-Nisa ayat 23:

“(Diharamkan atas kamu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Larangan menikahi dua wanita bersaudara diperkuat dengan hadits Rasulullah, di mana salah satu istri Rasulullah -Ummu Habibah- mengusulkan agar Baginda menikahi adik kandungnya.

Keinginan itu lantas ditolak oleh Rasulullah.

Beliau pu menjawab, “Sesungguhnya ia tidak halal untukku.” (H.R Imam Bukhari, An-Nasa’i)

6. Mampu Menjaga Kehormatan Para Istri

Syarat penting Poligami sesuai syariat Islam bagi setiap pria yang hendak beristri lebih dari satu adalah mampu membimbing, mendidik, serta menjaga kehormatan para istri.

Apabila ia membiarkan salah satu istrinya bersikap bebas dan berbuat maksiat, maka dalam hal ini suami pun ikut menanggung dosa perbuatan istri tersebut.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)

Hukum Poligami Dalam Islam dan Dalilnya

Dikutip Tribunpekanbaru.com dalam Dalamsilam.com, sebuah pernikahan yang bersifat monogami maupun Poligami masih ada di dalam satu konteks pernikahan.

Persamaannya adalah keduanya ini sama – sama pernikahan. Karena masih di dalam konteks pernikahan, maka di dalam pernikahan yang dilakukan ini tidak boleh keluar dari syarat -syarat pernikahan.

Syarat – syarat pernikahan yang melahirkan hikmah dalam kehidupan bisa ditemukan dalam Al-Qur’an surat Ar – Rum Ayat 21 sebagai berikut:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dari ayat tersebut bisa diambil hikmah bahwa dalam sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan.

Baik dalam pernikahan monogami maupun Poligami. Bukan hanya untuk kebutuhan syahwat saja, atau bukan hanya igin bertemu dengan jodoh dan menyatu.

Namun, tujuan terbesar dalam pernikahan adalah menjadikan dua pasangan menjadi lebih dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apabila dalam sebuah pernikahan monogami namun dalam pernikahan tersebut tidak menjadikannya dekat dengan Allah, kemungkinan ada yang salah dengan proses

Seharusnya dengan menikah menjadikan seseorang untuk menjadi sholeh dan sholeha. Dahulu sebelum menikah mungkin agak sulit untuk bisa melaksanakan sholat berjamaah.

Namun, apabila sudah menikah maka seorang suami ataupun seorang istri tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat berjamaah. Karena, imam dan makmumnya sudah ada dikirimkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Maka dari itu, sejak zaman Nabi sebelumnya suami istri yang berumah tangga membangun visi dan misi untuk mendekatkan diri dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apabila dalam sebuah pernikahan tidak mendapatkan ketenangan, tidak pernah jiwanya merasa tenang dan bahkan selalu terjadi keributan, maka ada yang salah dalam rumah tangga tersebut.

Ketika suami atau istri yang orientasi menikahnya bukan karena Allah mungkin dengan alasan karena materi, kedudukan menyebabkan cintanya ini tidak abadi.

Salah satu kisah Nabi yang bisa dijadikan pelajaran dalam memaknai pernikahan adalah kisah Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim yang telah menikahi Sayyidah Sarah pun tidak luput dari berbagai ujian dalam kehidupan.

Namun, karena kecintaan keduanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka mereka pun saling menjaga.

Hukum Poligami Menurut Islam dalam Alquran

Perintah untuk Poligami menurut ulama itu sekedar boleh saja.

Tapi, perintah boleh ini bisa naik hukumnya menjadi sunnah, wajib dan juga haram pada kondisi tertentu.

Seperti misalnya, seorang suami yang sadar dirinya tidak bisa adil, merasa kalau hatinya tidak bisa condong pada yang satu, maka suami tersebut bisa berdosa.

Atau suami yang sadar kalau dirinya tidak bisa memberi nafkah, namun tetap memaksakan diri untuk Poligami maka itu akan menjadi dosa, karena memberikan nafkah kepada istri wajib hukumnya.

4 Karakter Pria yang Boleh Poligami Menurut Habib Usman bin Yahya

Poligami menjadi satu topik pembicaraan yang cukup menarik dikalangan pasangan berumah tangga, khususnya kalangan perempuan.

Pasalnya, praktik Poligami kini sudah banyak ada di mana-mana dan dilakukan secara terbuka oleh para suami atau pria.

Poligami pun juga jadi pembahasan yang cukup membuat Kartika Putri ketar-ketir.

Soalnya ia sempat membuka kalau banyak wanita yang datang pada suaminya, Habib Usman bin Yahya dan menawarkan diri jadi Istri kedua.

Akhirnya Habib Usman angkat bicara soal ilmu Poligami yang harus diketahui semua orang.

Katanya, ada 4 golongan pria yang boleh Poligami.

Hal itu disampaikan sendiri oleh Habib Usman saat jadi bintang tamu di konten Oki Setiana Dewi.

Awalnya, Kartika bicara tentang ketakutannya jika sang suami Poligami.

Ia hanya takut jadi Istri yang durhaka pada suami karena tidak rela jika suaminya menikah lagi.

“Yang aku khawatirkan kalau Habib Poligami, jujur aku takut aku kualat sama suami aku.

Gak di – Poligami aja aku mencari surga di suamiku banyak sekali ujiannya, aku belum lulus.

Apalagi nanti di kemudian hari habib nikah lagi aku jadi Istri yang galak, Istri yang suudzonin suami, Istri yang durhaka,” ujarnya.

Habib Usman dan Kartika sendiri menganggap Poligami itu adalah hal yang boleh dilakukan karena memang halal di mata Allah SWT.

Namun menurut Habib Usman, Poligami yang sehat adalah yang mengerti dan memahami aturannya Allah dan bukan dengan nafsu semata.

Bukan dengan asal Poligami yang pada akhirnya salah satu pasangan jadi disakiti atau yang lain juga ikut disakiti.

Habib Usman menambahkan bahwa jika seseorang bisa berlaku adil, itu luar biasa.

“Berusaha untuk adil, tapi yang punya adil itu hanya Allah.

Manusia itu gak bisa adil, tapi berusaha mendekati keadilan,” tambahnya.

Akhirnya Habib Usman membuka 4 golongan pria yang boleh ber – Poligami dan wanita dipastikan tidak akan menolak yakni :

1. Raja

“Golongan pertama itu adalah raja.

Dia punya anak menjadi pangeran ya kan, menyebarkan kerajaannya lebih besar.

Seorang raja boleh Poligami, raja yang baik ya.

Seorang raja, seorang khalifah, atau seorang pemimpin daerah, dia adil, dia boleh.

Tapi dengan tujuannya untuk menyebarkan kebaikannya,” katanya.

2. Pria Kaya dan Dermawan

Golongan yang kedua disebutnya adalah yang kaya dan dermawan.

“Yang kedua adalah orang kaya dermawan. Kaya dermawan, baik, dia sodaqohnya baik, semuanya baik.

Dengan kekayaannya, dia bisa punya banyak Istri, banyak anak,” lanjutnya lagi.

“Gak, Habib belum kaya! Belum! Belum!” celetuk Kartika yang memang khawatir suaminya masuk ke dalam golongan tersebut.

Kekhawatiran Kartika pun terjadi di mana Habib Usman masuk ke dalam golongan ketiga orang yang boleh Poligami.

3. Ulama

“Dan yang ketiga adalah ulama. Ulama itu buat dakwah, menyebarkan dakwahnya, anaknya menjadi ulama lagi.

Anak saya pasti jadi Habib, dan pasti jadi syarifah karena keturunan dalam darahnya,” ujarnya.

“Aku mah oke tiap tahun bunting!” sahut Kartika yang membuat semua orang tertawa.

4. Orang Gila

Nah, ada golongan keempat yang disebut boleh Poligami, tapi jadinya bukan pahala melainkan perkara.

“Raja bukan, pengusaha bukan, kaya raya dermawan juga bukan, ulama juga bukan. Eh, dia Poligami! Orang gila.

Nekat! Karena apa? Dia bulan ulama, bukan kaya raya dermawan, bukan adilnya pemimpin juga, dia berani untuk menikah lagi. Cari perkara!” serunya.

Karena golongan keempat ini pasti berPoligami tanpa punya ilmunya dan hanya berdasarkan hanya nafsu.

Habib Usman menambahkan bahwa jika Poligami disebut mengikuti Rasulullah SAW, ia membeberkan kejadian sebenarnya.

“Rasulullah tidak pernah memPoligami Istri pertama.

Jadi ketika Rasulullah berumah tangga, usianya kurang lebih 25 tahun plus minus.

Apakah Rasulullah pernah mem Poligami Khadijah? Gak pernah,” pungkasnya.

About namiradistro

Check Also

Nikita Mirzani Beri Tanggapan hingga Ancam Balik Karena Dianggap Menghina Niat Salat

Karena video diedit dan dipotong-potong, Nikita Mirzani disebut melecehkan Islam Buntut panjang ancaman terhadap Nikita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + 5 =